Covid oh Covid

 Antara Musibah dan Anugerah


https://unfoundation.org

Covid oh Covid



Yes!
Siapa disini yang ngerasa stuck dengan keadaan NEW ERA Covid-19? Cung!

Saya salah satu nya, yang ngerasa maju mundur canteek canteek buat program hamil di tahun ini. Selain karena saya merasa was - was hampir setiap waktu kalau babab pulper ke kantor atau dinas luar kota, juga karena saya mengakui tidak bisa 100% lock my self down at home. Tetep aja sebagai Istri Rumah Tangga, ai harus ke pakde sayur komplek buat belanja sayur mayur fresh, tetep aja harus ke pasmod buat belanja kebutuhan bulanan terutama protein - protein dan tentunya supermarket andalan deket rumah buat refil dadakan. Belum lagi online shopping dan juga jajan di applikasi online yang driver dan kurir-nya well, pastinya 100% beraktifitas dan berkontak dengan banyak manusia.

Terus maunya gimana?

Ya maunya ngikutin anjuran pemerintah, protokol covid-nya dijalanin. Terkadang saya minta tolong bapak kurir untuk simpan paket-paket itu didepan teras rumah, semprot-semprot, angin-angin baru buka box di teras dan buang segera sampah-nya. Kalau jajan, sangat diusahakan plastiknya langsung dibuang di tempat sampah depan rumah dan cuci tangan, pindahin makanan ke piring atau gelas rumah, lalu cuci tangan (lagi). 
Sedangkan untuk orang rumah yang cuman ada babab, saya dan bibi yang pulang pergi, kami membiasakan untuk rajin serajin-rajinnya untuk cuci tangan, ganti baju, baju kotor langsung masuk mesin cuci, dan jika diperlukan mandi dan juga shampoo-an tidak lupa. Semua baju selalu saya ingatkan bibi untuk dicampur dengan cairan antiseptik, sedangkan masker wajah sehabis digunakan langsung di rendam antiseptik baru kucek dan keringkan. 
Bagaimana dengan uang kertas? sangat diminimalkan penggunannya, tapi ya susah juga loh..semisal mau kasih tukang parkir, belanja di pakde sayur, kembaliannya yang kita simpan didompet, recehan yang disimpan dimobil juga. Jadilah cuci tangan dengan hand sanitizer di mobil dan dimana saja setelah tangan ini memegang sesuatu yang tidak steril lebih sering.

Apakah menjamin? tentu tyidaaak..marimar..
Saya masih merasa kurang hygiene, terselip rasa was-was...karena..semua tidak menjamin kalau kami steril total. Rudet (ribet) ya? iyah, semakin dipikirin semakin banyak lihat, dengar, dan baca berita terkini dari media online, TV, atau WAG bikin jantung merosot ke jempol kaki. 

Seperti sore ini, saya seperti biasa Silent Reader  di WAG komplek ibu-ibu. Hari ini pembahasannya mengenai warga komplek sebelah yang suspect Covid-19 dan mungkin termasuk yang disebut sebagai OTG (Orang Tanpa Gejala). Beliau dan putri nya berinisiatif melakukan swab test mandiri setelah mendengar bahwa tukang buah dan sayur dekat rumahnya meninggal dengan symptom Covid 19. Selang sehari swab test result keluar, beliau dinyatakan positif dan putri-nya negatif oleh team medis. Lalu apa yang beliau lakukan, protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah dan WHO dari H1 ketika swab test sudah dilakukan, bahkan ketika hasilnya belum keluar beliau sudah melakukan protokol isolasi mandiri dirumah. 
 
Begitu mengetahui hasil swab test, beliau langsung menghubungi local authority di kompleks tersebut melalui media elektronik dengan harapan informasi akan langsung sampai kepada RT, RW dan juga satgas Covid. Tidak lupa beliau juga memberitahu kepada tetangga - tetangga di radius 50 meter sekitar rumah dan juga instansi tempat beliau bekerja dan keluarga besar.

Banyak yang memberikan support dengan mengirimkan bahan makanan didepan pintu rumah dan juga moral support. Namun ternyata,tidak semuanya memberikan feedback positif, ada juga yang menuntut untuk disclosing nama pasien kepada satgas bahkan setelah tahu sebenarnya siapa tetangga yang terinfeksi.  Jika dilihat dari sisi positif, mungkin ini bentuk kekuatiran dan perhatian sesama tetangga.

Bijaknya si Ibu sangat transparan dengan memberikan update mengenai keadaan beliau dan keluarga kepada WAG komplek dan beliau juga kuatir dengan keadaannya yang akan menjadi beban terselubung bagi tetangga yang lain di tengah pandemi ini. Kenapa? karena tidak semua dari tetangga tersebut mampu untuk membantu si Ibu dan Anaknya tetapi juga terselip rasa tidak enak, malu, atau rasa bersalah jika tidak turut serta. Daripada serba salah, maka beliau pun menginformasikan bahwa kebutuhan harian dan medis alhamdullilah masih beliau bisa tangani sendiri dibantu dengan tim SATGAS dan keluarga besar.

Moril of this story from WAG this afternoon,  

We never exactly knew the state of our health against this virus even though we have implemented the Covid-19 protocol properly and orderly. What we can do is awareness to always carry out the covid - 19 protocol at maximum level, because this is not only about the safety of our own health but also of those around us.

Tepa Selira, the Javanese say, is a state where we can feel what other people feel. 
Paling tidak, jika tidak bisa membantu secara materi, mereka akan sangat bersyukur diberikan support moril dengan memberikan semangat dan rasa persahabatan yang hangat.
Remember, the threat is not the patients, it will never be. It is the virus. Do not threat them as disease,if we afraid which is normal as mere human..we can start protect our self by do the FIRST  ACTION which is INDEPENDENT SWAB TEST .. I know, it's not cheap and not everyone can afford it..i know it backfired at me. There's always priority..there's always a way out,..believe if you find this VERY IMPORTANT you will do anything to get it done. 

For me personally, the dangers of this virus are very real and close y'all. My husband did rapid twice with negative result alhamdullilah, however in this Jakarta current situation i guess we need to levelling up by swab test. WE might have it soon. 

The crucial question is, should we stop the pregnancy program coz this pandemic? Tentu tyidak Ferguso, move forward never backward. Saya dan babab sudah sampai setengah jalan dan kami mau meneruskan sampai dengan selesai. H2c alias harap-harap cemas, itu yang saya rasakan setiap mau berangkat dan pulang entah dari rumah sakit, klinik lab juga kalau ketemu sinshe. Bissmillah, selalu melakukan protokol kesehatn dan pasrah sama Allah beserta keputusannya adalah cara terbaik obat mujarab karena kita sudah melakukan yang terbaik. Kami juga sudah menanyakan tentang protokol medis untuk IVF disaat pandemik ini dan they inform us, before starting the IVF program the medical team also requires us to do a swab test first. Artinya akan ada biaya tambahan diluar dari dana IVF yang sudah disiapkan. Gak apa - apa, hitung-hitung sekalian di cek toh. Semoga kami sehat walafiat ketika hasilnya keluar nanti.

God willing InsyaAllah, in the spirit of the health protocol from the government which we implemented, the intake of morning jogs also supplements as well as sunbathing as morning routine. We will keep our self  at our best shape. Last but not least, always pray to Allah SWT to be  given grace and protection. Ammiin YRA.

Dari sudut pandang yang lain, apakah ini Anugrah atau Musibah? 

Buat saya pribadi, tergantung dari cara pandang dan pola pikir kita. Mau dibawa kearah positif lalu output-nya jadi energi baik atau negatif sehingga output-nya jadi energi tidak baik. contoh, kalau dibawa kearah yang positif, seperti tindakan si Ibu, beliau transparan dan tetap memikirkan orang banyak padahal diri dan anak-nya lah yang seharusnya menjadi prioritas. Output-nya apa? si Ibu bebas stress, tetap bisa produktif, membangun suasana gembira dengan anak sehingga imunitas kedua-nya tetap baik. Nah kalau dibawa kearah negatif, jadi over proteksi, emosi tidak seimbang, lalu stress berlebihan tidak bisa tidur atau enjoy. Outputnya imunitas turun lantas dengan mudah kita jatuh sakit. 

Diluar daripada hal itu, challenge tahun 2020  ini memang berat. Anggaplah kalau semakin besar challenge-nya artinya kita mau naik level jama'ah, dengan versi masing-masing tentu-nya. Oia, baiknya sih tidak membandingkan keadaan kita dengan orang lain atau berasumsi karena setiap kita punya versi susah masing-masing dengan level yang berbeda-beda. Adil dan sayang lah kepada diri kita, mungkin dengan begitu sebenarnya kita juga jadi less stress, lebih hepi, dan legowo.

Akhir kata, bisikan doa dan harapan saya...semoga saya dan babab juga sekeluarga besar selalu dilindungi dan diberikan kesehatan dan dikuatkan oleh Allah SWT, terkirim doa yang sama tertuju kepada kalian yang mampir di blog kami. 

Salam Sehat selalu ya,...

nb: tanpa mengurangi rasa hormat dan tidak memojokan siapa - siapa jurnal hari ini saya buat. Betul - betul saya tulis sebagai curhatan dan pemikiran saya atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar saya dan tidak dilebihkan atau ditambahkan. Jika ada pihak - pihak yang tersakiti, saya mohon maaf dan mohon dimengerti sekali lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Dimulai dari Nol di 2020

Meet the Doctors Part 1

Man, We Got the Culprit!