Dimulai dari Nol di 2020
The Beginning..Road of Conceive 2.0
Hai everbody!
Selamat hari kamis kumis, menuju weekend dan gajiaaan yeehaa!
Setelah kemarin saya share H2C alias harap-harap cemas selama terlambat haid 13 hari, hari ini saya mau cerita kenapa di tahun 2020 ini saya membulatkan hati untuk 100% total untuk program kembali. Tahun 2019 saya keguguran disaat usia kandungan saya baru 7 weeks, sempat dirawat 3 hari di RS dan minta bedrest dirumah. Patah hati dan pake drama nangis-nangis sama suami di kamar rumah sakit waktu itu. Setelah itu sempat musuhan sama testpack dan memutuskan untuk benar-benar break dari dokter dan segala obat juga program.
Satu Tahun..
12 bulan, 356 hari, 8760 jam..saya memberikan hati untuk sembuh..untuk paham sesuatu yang terbaik menurut Allah itu ya bukan berarti sreg di hati kita si manusia yang seringnya jadi over thingking.
Di akhir 2019, melalui pertimbangan panjang, diskusi alot, kadang juga jadinya mencar tapi akhirnya kami punya kata sepakat. Awal 2020 saya berhenti kerja, bukan keputusan yang mudah pada awalnya, tetapi ternyata setelah surat resign dibuat dan di approve oleh manajemen jujur seperti ada beban yang lepas dari pundak saya. Plong rasa hati ini..
![]() |
Februari 2020 adalah bulan terakhir saya bekerja setelah 11 tahun membangun karir, saya tidak menyesal melepas karir dan jabatan saya. Karena ini adalah awal mula dari perjuangan kami yang baru, ya dimulai lagi dari nol..semuanya. Saya benar-benar ingin tahu secara medis ada apa dengan kami (bukan ada apa dengan cinta ya,..hehehe). Selain itu ada satu hal lagi yang gak kalah penting, kami kejar-kejaran dengan umur, dengan usia kami yang terpaut 5 tahun dan sebelum kami berasa jompo kalau lagi main kejar-kejaran atau gendong-gendongan sama anak - anak (insyaallah), dan tentunya inginnya ya kami masih mampu secara financial untuk berkarya dan berkarir untuk bekal anak - anak nantinya.
Corona Virus
![]() |
| sumber kompas.com https://nasional.kompas.com/read/2020/09/02/15382681/update-2 -september-kasus-suspek-covid-19-tembus-81757-orang |
Hai corona apa kabar?
Tidak lama setelah saya resign, baru mau menikmati indahnya jadi stay at home wife yang bisa ngintilin suami dinas kemana - mana, eh ndilalah Corona virus datang. Awalnya ga heboh dan masih biasa saja karena masih di Wuhan yang ribuan kilo jauhnya dan Indonesia di claim bersih dari virus covid-19 ini, saya pun masih sempat ikut dinas suami keluar jakarta. Sampai akhirnya di akhir bulan Maret Pak Jokowi declares Covid -19 National Disaster, lalu WFH (work from home) berlaku, lalu PSBB dan di bulan Juli mulai digembar gemborkan New Normal, dan di Bulan Agustus inilah kami ( si aku dan papabear) baru benar - benar memberanikan diri untuk melangkah ke New Normal yang menurut kami mah belum normal - normal amat. Masih dengan protokol kesehatan yang ketat (apalagi saya tipe yang OCD, parnoan, semua harus steril dan bersih). Well anyway, the show must go on right? jadi kami memutuskan untuk yuk, start button di tekan!
Window Shopping Dokter
Saya memulai dengan membekali diri dengan info-info terbaru dengan browsing, persiapan mental dan fisik (memulai lagi olahraga 30 menit setiap pagi), pra pasca IVF, dan tentunya mencari ahli medis sampai tempat untuk melakukannya. Setelah mengerucutkan riset, saya dapati beberapa nama ahli dan juga rumah sakit ataupun klinik yang khusus mendedikasikan untuk infetility case.
Nama pertama yang saya riset dan buanyaaak sekali saya temukan artikel yang memuat sepak terjang karir beliau di dunia per-bayi tabung-an adalah Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, MPH. Kalau mau tau lebih detail cek sama om google, pasti teman - teman akan jumpa dengan wikipedia beliau. Nama kedua yang saya riset adalah Dr. Kanadi Sumapradja, SPOG, M.sc. Beliau ini jagonya untuk kasus keguguran berulang dan dengan background kehamilan dan keguguran yang saya alami, saya rasanya tepat untuk konsul dengan beliau. Dan yang ketiga, dokter ini sepertinya idola bu ibu se-bekasi raya dan sekitarnya ( mungkin karena beliau skrg praktek di salah satu Rumah Sakit di Bekasi) ini hasil riset beberapa blog dan forum - forum. Beliau ini spesialis Obestetri & Ginekologi khususnya fetomaternal dr. Yuditiya Purwosunu, Sp.OG(K),Phd.
Dimasa ikhtiar cari dokter, melakukan lab test darah dan sperma (lagi), kami juga sudah merencanakan untuk akupuntur. Setelah lagi - lagi melakukan banyak riset dengan browsing di forum-forum ttc juga blog-blog fertility, banyak TTC survivor yang berhasil conceive alami maupun insem atau IVF dengan dibantu akupuntur ini. Setelah banyak membaca dan riset mengenai akupuntur dan ahlinya, saya dapatkan dua nama yang sering disebut sebut sakti untuk akupuntur fertilitas yaitu dr. Melya yang praktik di 3 tempat ( RS Husada, RSCM, dan Klinik Mediko) dan Sinshe Felice di Toko Obat Mutiara Sakti. Insyaallah kepingginnya weekend ini coba salah satunya, mudah-mudahan terwujud keinginan si aku di cublus-cublus jarum 😏 (padahal aslinya tegang karena belum pernah sama sekali si aku ini!). Selain si aku, si dia aka suami aka babab, aku sarankan untuk mencoba akupuntur.
Semua perencanaan yang detail, pendanaan yang khusus disiapkan, riset yang aku kerjakan secara sederhana adalah bentuk kesiapan kami untuk memulai kembali dan refocus to where we headed. We done mourning, we done questioning Allah SWT decision. Now, what we can do is do our best effort and the rest...we surrender to Allah decree.
Buat teman - teman yang sudah mampir, terima kasih sudah meluangkan waktunya mampir ke blog kami. Bagi yang sedang dan sama - sama berjuang seperti kami, keep your spirit..both of you coz it takes two to TANGGO. 😉


Comments
Post a Comment
Hi, Thank you for visiting our Blog!
we able to reach at romicosjournal@gmail.com